Kisah Teror Wanita Setan, Incar Bayi Lewat Lagu Cicak di Dinding


Di sebuah desa, di ketinggian Jawa Barat kerap diteror oleh 'wanita setan' pemakan bayi. Sosoknya menjadi legenda, dan di yakini masih ada hingga saat ini.

Peristiwa ini terjadi antara kurun waktu 1994-1997 di sebuah desa di ketinggian Jawa Barat. Cerita bermula ketika salah satu rumah sakit mengalami peristiwa meningkatnya angka kematian bayi dan kehilangan Ari-Ari.

Pada zaman itu, kebanyakan orang lebih memilih melahirkan ke dukun beranak dibanding ke rumah sakit, karena biaya persalinan di rumah sakit jauh lebih mahal dan juga faktor jarak dari desa ke RS besar yang cukup jauh.

Jadi pasien melahirkan di RS tidak seramai sekarang.

Tetapi, hari itu ada pasien yang harus melahirkan dengan operasi karena posisi bayi melintang (sungsang).

Pasien terus meraung kesakitan, bagaimana tidak? Sejak pagi dia masuk, sampai lepas waktu magrib masih belum mendapatkan instruksi tindakan operasi dari dokter.

Beruntung, Siti salah seorang perawat yang bertugas cukup sabar dan telaten dalam merawat pasien. Dia dibantu oleh rekan perawat lainnya yang bernama Yati.

Berbeda dengan Siti yang aktif, Yati ialah sosok yang pendiam, bila tidak bertugas merawat, dia lebih memilih menyendiri

Bahkan Yati jarang berbicara jika tidak ditanya lebih dulu. Parasnya yangg cantik, seringkali menjadikan Yati pusat perhatian dan sering di goda oleh rekan kerja lainnya, termasuk satpam Rumah Sakit.

Kala itu, Pasien mengeluh tidak kuat, dia meraung keras kesakitan, namun dokter tak kunjung memberikan tindakan operasi. Siti pun kewalahan.

"Teh, tolong saya sudah tidak kuat?" Keluh pasien.

"Sabar ya Bu, kita tunggu dokter, ibu berbaring miring ke kiri" arah Siti.

Kini Pasien tersebut berbaring menghadap Yati yang berdiri di sisi kiri.

"Yati, kamu jaga ibu dulu ya, aku Konsul ke dokter jaga di depan." Ujar Siti.

Yati hanya menjawab dengan mengangguk.

Sus, tolong, sakit, saya gak kuat" keluh pasien itu pada Yati.

Yati hanya menatap perut pasien tanpa menjawab sepatah kata.

"Sus! Tolong dong! Masa diam Aja sih!" Protes pasien, kesal dengan respon Yati.

Yati masih tak bergeming, pasien itu terus meraung-raung kesakitan.

"Cicak-cicak di dinding,
Diam-diam me-ra-yap,
Lahir seorang bayi,
Hap!
Hmmmm..." (Yati bernyanyi pelan, dia mengubah lirik di bait ketiga, kemudian hanya bersenandung di bait terakhir.)

Yati terus bernyanyi mengulang, pasien itu nampak semakin kesal. Tak lama banyak cicak merayap dari berbagai sisi di langit-langit kamar bersalin, cicak-cicak itu berkumpul merayap tepat di atas posisi sang pasien 

*Tiba tiba pasien berteriak...

"Cicak.. cicak! Sus tolong itu banyak cicak" Pasien gemetar ketakutan.

Yati berhenti bernyanyi, dia tersenyum, Serentak cicak-cicak itu jatuh menyergap tepat di perut pasien.

"Aaaaaaaaaa!!!!" Pasien berteriak kaget, tanpa sadar tangannya memukul-mukul perut mengusir cicak.

Pasien kalang kabut mengusir Cicak di perutnya, gerakan tubuhnya tak terkontrol. Yati hanya menyaksikan sembari tertawa kecil.

"Aaaaaaa!!! Cicak,, cicak tolong!!!!!" Teriakan pasien itu terdengar keras sampai keluar ruangan.

Siti pun kemudian datang menghampiri.

"Bu, ibu kenapa ?" Tanya Siti, lembut.

"Cicak sus, ini di ..." Jawaban pasien terpotong begitu melihat sudah tidak ada cicak di perutnya.

"Tadi diperut saya ada cicak banyak, sus" terang pasien yang kemudian merasakan nyeri tak tertahankan diperutnya.

Kemudian Siti pun memeriksa pasien itu,

"Pembukaannya sudah lengkap, kepala bayi sudah terlihat" Sontak Siti memanggil rekan perawat lainnya untuk membantu, karena diluar dugaan Pasien dapat melahirkan normal.

Yati yang berdiri agak jauh dari pasien mengerjapkan mata seolah tersadar sesuatu.

Para perawat lain datang membantu, tetapi Yati justru malah keluar ruangan. Sudah biasa bagi perawat lain melihat Yati keluar Ruangan ketika pasien hendak melahirkan.

Tidak ada yg mengetahui alasan pastinya, tak ada yang memprotes Yati.

Karena Yati selalu ambil bagian sibuk lebih dulu ketika mengurus pasien pada fase pra-bersalin, bahkan tak jarang membantu tugas perawat-perawat lainnya.

Persalinan pasien kali ini berlangsung lancar, anak laki-laki dilahirkan normal dan selamat. Kemudian Ari-Ari bayi dipisahkan.

Siti membawa Bayi itu ke luar ruangan persalinan untuk dibersihkan.

Lalu, Siti memasuki ruangan memandikan bayi seorang diri, dia membersihkan Bayi baru lahir itu, sementara perawat lain meneruskan penanganan pasien (menjahit).

Bayi yang semula menangis keras, tiba-tiba berhenti menangis.

Siti mencium aroma melati, mulanya dia menghiraukan, tetapi lama-lama wangi itu berubah menjadi bau semerbak kemenyan.

Bulu Roma Siti meremang, dalam hati dia merapalkan doa, bayi itu menangis lagi, lalu terdengar suara perempuan bergumam melantunkan nada lagu 'cicak di dinding'.

Bayi itu berhenti menangis, seolah mendengarkan suara senandung lagu 'cicak di dinding' dengan lantunan tempo lambat.

Suara itu berasa dari langit-langit ruangan di sisi belakang Siti. Tangannya mulai gemetar memegang sang bayi, jantungnya berdegup lebih kencang, Siti ketakutan.

Suara senandung itu semakin keras (dekat), sekujur tubuh Siti membeku, dia merasakan ada sosok merayap yang mendekat menghampirinya, Sosok itu kini jelas berhenti tepat di langit-langit atas kepala Siti.

Dia memperat genggaman ke sang bayi, Perlahan Siti mendongakkan kepala

Ada yang menetes ke kepala Siti, cairan kental yang berbau amis. Siti memberanikan diri untuk terus menoleh ke atas dengan gemetar.

tubuhnya berupaya menjaga keseimbangan, Mata Siti terbelalak, kaki-kakinya melemas.

*Alangkah terkejutnya Siti saat melihat..

Sosok wanita merayap, berambut panjang menjuntai, bola matanya putih, wajahnya tua hitam, giginya betaring, dan keluar cairan kental hitam berbau anyir dari mulut sobeknya. Cairan itu menetes deras ke wajah siti.

Sekujur tubuh Siti membeku, lidahnya kelu, badannya gemetar hebat tetapi dia berupaya sekuat tenaga menjaga kesimbangan tubuhnya agar tidak roboh ke lantai.Kedua tangan Siti masih memegang erat sang bayi.

Sekarang, sosok itu menjulurkan tangan dgn kuku-kuku hitam panjangnya ke arah kedua bola mata Siti secara perlahan.

Siti tak tahu apa yang harus diperbuat disituasi ini, dia ketakutan setengah mati, kaki-kakinya melemas entah berapa lama lagi mampu menopang pertahanan tubuhnya.

Belum sampai jari makhluk itu ke mata Siti, tiba-tiba bayi digenggaman Siti menangis keras.

Sosok itu beralih menatap sang bayi, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan memperhatikan sang bayi, kemudian tangannya berbelok arah ke bayi tersebut.

Sontak Siti merundukan badannya melindungi bayi itu dgn punggungnya. Sosok makhluk wanita mengerikan itu mengeram memekik mengalirkan deras cairan hitam pekat berbau anyir yg membanjiri punggung Siti.

Tak lama, secepat kilat makhluk itu menyergap tubuh Siti

"AAAAAAKKKKKKK!!!"

Siti berteriak keras, seolah dirinya pasrah atas apa yang terjadi berikutnya.

“Teh, Teh, Teh Siti! Kamu kenapa?” Sentak Ayu yang merupakan rekan perawat Siti.

Siti masih membungkuk ketakutan, tak berani menoleh.

“Oalah, ini Cuma cicak jatuh dipunggung teteh” ujar ayu santai, sembari mengusir cicak dipunggung Siti. Cicak itu melompat entah kemana.

Siti tersadar, dia menoleh ke belakang dan benar, ada ayu didekatnya. Siti masih tak percaya dengan apa yg baru saja terjadi padanya, dia menarik napas panjang mencoba mengambil alih tenang.

“Kamu kenapa tadi teh? Takut cicak?” Ayu menyeringai tertawa kecil.

Alih-alih ingin bercerita banyak pada Ayu, Siti hanya membalas, “Gapapa”.

Tangannya masih gemetar, tapi dia berupaya tenang, kemudian melanjutkan aktifitasnya membersihkan bayi.

Siti memeriksa tubuh sang bayi untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.

Siti mempercepat pekerjaannya membersihkan bayi, lalu menyerahkan Bayi tersebut ke poli anak unit pasca melahirkan.

Siti kembali ke ruang bersalin, tampak disana dia mendengar rekannya sedang berdebat di meja jaga depan ruangan.

“Tadi kamu Tyas yg minta ari-ari bayinya, katanya biar kamu yg urus. Kok sekarang malah tanya lagi ke aku, Gimana sih?!” tegas salah seorang perawat ke rekan perawat lain. –

“Teh, aku gak merasa nerima. Orang aku aja baru selesai jahit pasien. Tanya aja ayu kalau nggak percaya.” Balas Tyas, perawat yg tak terima disalahkan.

Rupanya mereka memperdebatkan ari-ari bayi yg hilang. Mendadak perasaan Siti menjadi tidak enak, dia menghampiri rekannya.

“Sudah-sudah jangan ribut. Tyas, kamu laporan ke poli sama bagian rekam medis soal ari-arinya yg gak ada. Biar nanti mereka yg menentukan tindakan penyampaian ke pasien” ujar Siti menengahi.

Perasaannya tidak enak, dia merasa ada yg tidak beres dari rangkaian kejadian hari ini.

Tak selang berapa lama, berita duka datang dari dokter poli anak yg menyatakan bahwa bayi yang baru saja lahir tadi mengalami penurunan oksigen drastis yang membuat kondisinya mendadak drop kemudian tidak dapat diselamatkan.

‘Bayi tadi meninggal dunia’ ujar salah satu perawat.

mendengar hal itu, seketika badan Siti menjadi lemas.

Entah mengapa dirinya merasa bersalah. Dirinya terbayang-bayang oleh peristiwa mengerikan yg baru saja dialaminya.

Sekarang, dia yakin, bahwa hal yang tadi dialaminya bukan halusinasi, melainkan benar-benar nyata!

Keluarga pasien pun menangis histeris, sang ibu juga merasa bersalah karena berpikir bahwa ini penyebab dari dirinya yang tak kontrol ketakutan sampai memukul-mukul perut.

*Dari kejauhan, nampak Yati berjalan perlahan menghampiri...

Yati masih diam seperti biasanya. Ibu pasien itu diantar Siti dengan kursi roda ke kamar rawat. Mereka berpapasan, Ibu pasien hanya menatap tajam Yati tanpa berkata apapun.

Setibanya di kamar rawat, Sang Pasien bercerita pada Siti tentang peristiwa aneh yang dialaminya di kamar bersalin ketika hanya berdua bersama suster Yati.

“Sejak Saat itu, angka kematian bayi mendadak tinggi kang, ari-ari bayi juga sering hilang” ucap Suster Siti padaku, beliau ialah Narasumber keduaku.

Suster Siti mengatakan bahwa sejak peristiwa itu, makhluk bengis itu semakin intens meneror, hampir seluruh perawat poli kandungan mengalami teror serupa (diawali dengan senandung lagu ‘cicak di dinding’).

Sangat mengerikan, banyak yang berujung pingsan bahkan memutuskan berhenti bekerja.

Tak hanya perawat. Satpam dan karyawan RS lainnya juga kerap diganggu kala dinas malam.

Wujudnya yang mengerikan, gerakannya merambat dan merayap serta berpakaian suster lusuh membuat dia dijuluki “Hantu Suster Rayap” oleh warga Rumah Sakit.

Akhirnya, Rumah Sakit melakukan penyelidikan khusus atas fenomena ‘tidak wajar’ ini.

Sejak penyelidikan dilakukan, angka kematian bayi dan kehilangan Ari-Ari tidak sesering sebelumnya, bahkan nyaris bisa dibilang tidak ada.

Tetapi ternyata, teror berpindah ke suatu desa, di sana makhluk itu semakin bengis.

Kala magrib, di desa tersebut memang sudah gelap. Hari itu bulan malu-malu menampakan dirinya dicakrawala.

Lalu, Di sebuah rumah kayu (semi permanen) seorang ibu sedang merintih kesakitan dibantu oleh seorang paraji yg bersiap melahirkan permata kecilnya ke dunia.

"Ayo Bu, tarik napas, terus tekan. Ayo Bu, terus.." arah seorang paraji.

Ibu itu merasa sudah sekuat tenaga mendorong tekanan dlm perutnya agar si bayi keluar namun ujung rambutnya saja tak kunjung terlihat.

"mbok, aku udah gak kuat. Sakit." Ibu itu terlihat lemas kehabisan energi

"Ambil minum dulu" Mbok Paraji meminta suami sang ibu mengambilkan minum.

Mereka mengambil jeda sejenak untuk memberikan ruang kepada si ibu mengisi kembali sedikit tenaganya.

"TOK..TOK..TOK" Suara ketukan lambat pintu terdengar.

"TOK...TOK...TOK" Sekali lagi.

Suasana hening, semua terfokus pada sumber suara ketukan itu. Sang suami melangkah perlahan menuju pintu hendak membuka. Tiba-tiba dia merasa merinding, tangannya terasa berat untuk membuka .

"TOK..TOK..TOKK" Suara ketukan lambat itu terdengar lagi.

Sang suami menoleh ke belakang, istrinya seperti memberi isyarat untuk membuka pintu. Dalam satu helaan napas, dia membuka pintu cepat, 'tidak ada siapa pun' Suami keluar satu langkah.

Dia menoleh ke kiri dan kanan, tetapi memang tidak ada satu orang pun, apalagi di desa itu dari rumah satu ke rumah lain cukup berjarak.

Sejauh mata memandang hanya terlihat pepohonan besar dengan akar menjalar lebat. Dia masuk kembali ke dalam rumah.

lalu...
sang suami menutup rapat pintu.

Suasana masih hening, hawa dalam ruangan menjadi dingin tapi pengap membuat kening mereka mulai basah.

"TOK ...TOK..TOK" pintu itu terketuk lagi, kali ini lebih keras.

"Jangan di buka!" Teriak si mbok. Di desa rata-rata paraji biasanya memiliki tingkat kepekaan tinggi.

Proses persalinan pun dilanjutkan.

"Ayo Bu, cepat Bu, tarik napas dorong!" Paraji itu seketika mendesak si ibu untuk berusaha lebih keras agar sang bayi cepat keluar.

"Ayo Bu, cepat Bu, dorong!" Desak mbok paraji.

Namun tiba tiba...

'Kreeeeeek'!

Suara pintu itu terbuka sendiri perlahan, suara engselnya membuat darah sketika berdesir.

"Cicak-cicak di dinding
Diam-diam me-ra-yap
Lahir seorang bayi Hap!
Hmmmmmmm" Suara itu lagi, masih dengan lantunan perlahan, merubah bait ketiga, dan bersenandung gumam dibait akhir.

Obor dalam ruangan yg menjadi sumber penerangan berkedap-kedip redup. Maklum saja, pada masa itu. Di desa tersebut masih mendapat listrik bergilir.

Raut kepanikan terlihat di wajah Mbok Paraji.

"Ayo Bu! Jangan berhenti, Ndak usah didengar, terus dorong! cepat!"

Suara itu masih tak henti bersenandung, Mendadak banyak cicak merayap di langit² rumah.

Mbok Paraji cemas,
"Kang, tolong panggil Pak Tua cepat, minta bantuan!" Pinta mbok Paraji ke pak suami.

"ibu ayo, Bu! Harus cepat!" Sekarang, hanya tinggal si ibu dan Paraji di dalam rumah

Suara wanita itu meniru perkataan mbok Paraji.

"Ayo Bu, cepat" suara wanita berbisik kuat itu kemudian tertawa melengking.

Wujudnya tidak diketahui ada dimana, tetapi cicak-cicak di dinding merayap semakin banyak, bahkan beberapa ada yang melompat ke kepala dan badan si ibu.

"PERGI KAMU, PERGI!" sentak mbok Paraji

"pergi kamu, pergi!" Suara wanita itu meniru kalimat si mbok lagi.

Tiba-tiba sang ibu merasakan sakit yang luar biasa tak tertahankan diperutnya yang membuatnya secara otomatis mendorong kuat sang bayi hingga keluar.

Bayi itu pun keluar tetapi tidak menangis.

Tubuhnya biru pucat, sontak si mbok mengangkat sang bayi lalu memukul-mukul bokong bayi namun masih tidak menangis, Paraji itu mengecek nadi dan napas sang bayi, Ternyata bayi itu sudah tidak bernyawa.

Sang ibu menangis, Karena situasi panik, mbok Paraji baru menyadari sesuatu bahwa bayi itu lahir tanpa ari-ari (hilang).

Derap langkah terdengar mendekat ke rumah, pak suami dan pak tua sudah tiba disituasi yang terlambat. Namun, suara wanita dan cicak-cicak itu sudah tidak ada.

Pak suami itu memeluk istrinya, bayi biru malang itu belum sempat menghembuskan napas pertamanya di dunia karena telah direnggut oleh iblis dalam raga wanita bernama Yati.

Pandangan pak tua menelisik seisi rumah, dia menarik napas berat merasakan sesuatu.

"Dia masih di sini" ucap pak tua.

Pak tua melangkah keluar, disusul oleh pak suami. Sedangkan si mbok masih di dalam rumah menjaga sang ibu yg kondisinya masih lemah.

Mata pak tua mengitari sekitar, dia menarik napas berat, Kemudian dia maju beberapa langkah lalu menoleh ke arah atap rumah.

Kedua mata pak tua terbelalak begitu melihat sosok wanita bengis mengenakan baju suster lusuh dengan wajah tua, gigi taring dan mulut sobek nampak sedang menyantap ari-ari bayi tadi layaknya binatang buas yang kelaparan.

Makhluk bengis itu menyadari kehadiran pak tua, lalu menoleh sembari menggenggam sisa ari-ari di tangannya. Mulut sobeknya masih dipenuh darah ari-ari tersebut.

Dia menyeringai tajam ke arah pak tua.

Pak tua kemudian melapalkan mantera, namun sosok itu justru malah tertawa.

Wanita itu kemudian bersenandung lalu bernyanyi dengan suara mengayun tetapi memekikan telinga mana pun yang mendengarnya

"Cicak-Cicak di dinding,
Diam-diam merayap,
Lahir seorang bayi,
Hap!
LALU KU BUNUH!" Kali ini dia bernyanyi dengan lirik lengkap.

Tiba-tiba erombolan cicak yg tak terkira jumlahnya meloncat dari atap genteng menyergap Pak Tua dan Pak Suami yang berada di bawah.

Kedua tangan mereka kewalahan menghadang cicak-cicak itu, lalu sosok wanita bengis itu seketika menghilang entah kemana.

Pak Tua yang merasa kampungnya sedang dalam ancaman ghaib jahat dengan sigap mengumpulkan para petinggi desa lalu menginstruksikan para penduduk agar tidak keluar rumah selepas magrib, khususnya bagi yg sedang hamil, tidak boleh ditinggal sendirian.

Setiap malam selama tiga hari berturut-turut; para petinggi desa, tokoh masyarakat, beberapa pemuda (termasuk empu) melakukan ritual tolak bala dipimpin oleh Pak Tua guna memohon perlindungan pada yang kuasa dan para leluhur serta lelembut penjaga.

namun siapa sangka, ternyata peristiwa tadi baru pembuka dari awal permulaan teror wanita bengis yang semakin keji. Setiap kemunculannya dirasa pak tua memiliki energi yang semakin kuat.

Setelah dua bayi lagi meninggal dengan cara serupa oleh makhluk bengis itu, bahkan satu di antaranya sang bayi benar-benar lenyap dalam kandungan sebelum sempat dilahirkan.

Pak Tua membagikan bawang putih yg telah diritualkan untuk digantung di setiap pintu-pintu rumah warga.

Beralih lagi ke rumah sakit, hasil penyelidikan Rumah Sakit, beberapa petugas rumah sakit menemukan ceceran darah basah yg tidak diketahui asalnya di poli kandungan.

Darah itu berceceran sepanjang lorong menuju ke mess kamar milik salah satu perawat bernama, YATI.

Dengan perasaan takut dan cemas, mereka melangkah memasuki ruang kamar. Tiba-tiba terdengar lagi suara wanita bengis itu bersenandung pelan mengayun,

"Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Lahir seorang bayi Hap!
Lalu ku bunuh" Disusul oleh suara tawa yg melengking

"SUSTER RAYAP!!!" mereka berteriak ketakutan,

Tanpa berpikir panjang langsung berbalik arah dan berlari seribu langkah sekencang mungkin menjauh dari kamar mess Yati.

Sejak saat itu, Yati tidak lagi nampak hadir bekerja di Rumah Sakit tersebut, namanya sudah dicoret (pecat) sebagai perawat.

Bahkan sosoknya saat ini menjadi legenda dan di kenal sebagai 'Hantu Suster Rayap'.

Sejak saat itu, kamar mess 'bekas' Yati dibiarkan kosong. Tidak ada yg berani mengisi kamar tersebut.

Bahkan saat ini, jika kalian berkunjung ke mess itu, kamar tersebut sudah digembok entah sudah berapa tahun tidak pernah dibuka lagi. 

--- SELESAI ---

2 Komentar

  1. Mantap nih cerita nya...
    Update terus min

    BalasHapus
  2. What does the slot payouts mean in casino - Dr.MCD
    A 제천 출장마사지 slot machine is 동해 출장안마 a combination of 계룡 출장샵 slots and video games, often 정읍 출장안마 found in casinos. When players use one of these games, they 충청남도 출장마사지 can experience the thrill of

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama