Cerita Horor: Terjebak Di Pasar Setan


Apa yang terlintas dipikiranmu saat mendengar kata "Pasar Setan"? Pasti kamu akan terfikir dengan pasar gaib yang ada di banyak gunung di Indonesia. Tapi, dalam cerita horor terjebak Di Pasar Setan kali ini, mimin tidak menceritakan yang ada di gunung.

Lantas dimana? Yuk simak baik-baik cerita nya.

Ini adalah pengalamanku beberapa tahun yang lalu saat touring degan seorang kawan dari Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Selepas kami dari Ciamis, Jawa Barat baliknya aku ikut mampir ke rumah kawan di Purwodadi untuk istirahat sehari sebelum balik ke Tuban, Jawa Timur.

Keesokan harinya selepas asar dengan mengendarai motor masing-masing, dia mengantarku sampai Bledug Kuwu sekalian untuk menemaniku untuk mengambil gambar di obyek wisata itu dan sekedar menikmati es kelapa muda yang memang banyak di jual di daerah itu.

Keasikan melihat obyek wisata bumi yang sedang senja itu hingga tidak terasa hari sudah menjelang maghrib. Baru selepas maghrib aku memulai perjalanan pulang ke Tuban, yang mungkin memakan 3 atau 4 jam perjalanan, maklum jalan alternative Cepu-Semarang ini rusak parah waktu itu.

Sebenarnya aku sudah merasa ada yang lain saat akan memulai perjalanan pulang ini. Sejak aku meluncur dari Bledug Kuwu, saat motor yang ku kendarai memasuki kawasan Kecamatan Kradenan, Grobogan, tiba-tiba ban motor ku bocor.

Untungnya masih ada satu tukang tembel deket kantor kecamatan masih buka. Setelah itu ketika memasuki Kecamatan Gabus tiba-tiba lampu depan mati, terpaksa aku berhenti di pasar Sulursari untuk memperbaikinya.

Beberapa saat setelah lampu kembali normal, aku lanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam, aku baru masuk masuk Randu Blatung, Blora, Jawa Tengah. Sekitar satu jam kemudian melintasi area hutan jati barulah aku sampai ke wilayah Klopo Duwur, Blora yangg terkenal dengan Wong Samin nya itu Kurang dari 3o menit kemudian aku sudah memasuki pusat Kabupaten Blora dan langsung mengambil jurusan Bojonegoro.

Lepas dari Batalyon 410 Blora sekitar 500 meter tiba-tiba tanpa sebab mesin motor mati Sebelumnya ini belum pernah terjadi, disamping masih tergolong motor yang baru saat itu sebelum berangkat touring, aku selalu mempersiapkan motor sesempurna mungkin.

Sedikit jengkel, ku tepikan motor ke tepi jalan dan memang jalanan saat itu masih ramai dari arah Blora menuju Bojonegoro, Jawa Timur.

*Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara wanita..

Belum sempat menurunkan standart, aku dikejutkan oleh suara tiba-tiba dari seorang wanita tua. Entah dari mana datangnya aku tidak mengetahui nya dengan jelas.

"Mas boleh saya minta tolong.” tanya wanita tua itu.

aku pun menoleh ke arah lelaki tua itu yang menyapaku itu,

“Apa yang bisa saya bantu Mbah?” jawabku.

“Saya boleh menumpang sampai di Bogorejo, mau naik ojek saya tidak ada uang nak" kata nenek tua itu bernada melas.

"Oo monggo Mbah, kebetulan nanti saya lewat situ. Tapi sabar dulu ya Mbah, motor saya agak rewel, saya akan cek dulu mesinnya sebentar” jelasku pada nenek itu.

kemudian, aku sama sekali tidak memperhatikan lagi wanita tua itu, karena aku terus konsentrasi dengan motorku. Setelah mengecek kondisi mesin, ternyata tidak ada sedikit masalah apapun terhadap mesin motorku. Begitu mesin motor ku starter langsung menyala, akupun segera melanjutkan perjalanan yang sebelumnya mempersilahkan wanita tua itu agar segera naik ke motor.

“Pegangan ya, Mbah" ucapku sambil aku lajukan motor.

Namun kali ini aku hanya melajukan motor dengan kecepatan standart karena membonceng seorang wanita, tua lagi. Waktu tertunda lagi satu jam lagi untuk sampai ke rumah Bau wangi dari wanita tua itu sebenarnya yang membuat risih. Sebab bau wanginya tidak seperti wewangian pada umumnya, aku merasa wewangian itu aneh.

Dalam pikiran ku, nenek ini gaul juga, ya masak punya parfum tapi tidak punya uang untuk ojek. Namun, aku tidak mempedulikannya, aku anggap bau wangi seperti ini sama dengan wangian wanita yang ada di kampung aku juga. Umumnya pada helatan hajatan kebiasaan mereka meakai wangian, namun ya itu tadi menyengat.

Dalam perjalanan tidak banyak yang aku bicarakan dengan nenek itu, sebatas mengingatkan untuk pegangan saja, disamping itu aku harus berkonsentrasi mengemudikan motor.

Ketika memasuki Kecamatan Bogorejo, Blora aku mencoba bertanya pada wanita tua itu. Tetapi sama sekali tak ada jawaban dari wanita itu.

"Tidak dengar mungkin" barangkali pikirku, Karena waktu Aku bertanya pada wanita tua itu kondisi motor sedang berjalan.

Sampai di dekat pasar Bogorejo akupun bertanya lagi pada wanita itu. Namun tetap tak ada jawaban. kemudian aku pun menepikan motor di dekat simpang tak jauh dari pasar dengan tujuan hendak bertanya kembali pada wanita itu, namun saat aku menoleh ke belakang, betapa terkejut nya aku...

Aku tidak melihat apapun, Wanita tua yang kubonceng tadi sudah raib entah kemana perginya. (Sekedar informasi, jalan alternative dari Blora menuju Kenduruan, Tuban, Jawa Timur ini adalah jalan sempit dan sebagian besar melewati areal hutan jati Perhutani).

Karena sudah merasa terlambat dan semakin beranjak malam, aku berusaha tidak peduli apa yang barusan terjadi sekalipun dalam hatiku penuh tanda tanya. Karena jalanan bergelombang aku tidak bisa memacu motor lumayan kenceng meskipun jalanan lenggang. 

Lepas dari Bogorejo ini aku memperlambat motor karena dikejauhan tampak banyak lampu seperti ada orang tontonan orang sedang punya hajatan.

Ternyata bukan, setelah aku berhenti di situ, keramaian itu seperti pasar malam tapi bedanya tidak ada komidi puter disitu. Seperti pasar malam pada umumnya, banyak sekali orang keluar masuk tempat tersebut, selain menikmati makanan dan banyak juga mereka yang coba membeli pakaian.

Karena semenjak tadi aku masih diatas motor aku pun bergergas, segera kutepikan motorku dan memasuki pasar tersebut yang boleh dibilang ramai meski malam sudah mulai beranjak tua. Tujuanku memasuki pasar malam ini hanya untuk mengisi perut, setelah mecari kesana kemari, tak jauh dari tempatku berdiri ada satu warung bakso.

Aku pikir, bakso adalah makanan paling tepat saat itu. Karena panas dan lumayan mengurangi rasa dingin juga. Sambil menunggu bakso yang ku pesan tadi di sajikan, akupun mulai menyalakan sebatang rokok.

*Namun aku merasa ada yang aneh.. 

ketika memperhatikan orang-orang di sekitar pasar malam itu. Dalam hatiku berguman,

“Aneh sekali pandangan mereka kosong semuanya. banyak suara riuh rendah tetapi mulut mereka tidak ada yang berbicara. Lalu itu suara dari mana?” Biasanya orang di desa selalu bertegur sapa sekalipun mereka tidak saling kenal, dan kali ini bulu kudukku mulai berdiri.

Meskipun demikian, aku tetap berusaha untuk tenang, karena aku menganggap itu adalah angin yang berhenbus perlahan. Sekalipun pasar malam tersebut hanya diterangi dengan cahaya lampu-lampu petromax namun susananya terang dan ramai.

Untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan aku mengeluarkan handphone lalu mencoba sms ke orang rumah sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 23.58 WIB. Saat itu aku tidak menyadari kalau aku sedang berada dalam dimensi lain.

Kemudian ku masukkan lagi handphone itu sembari menoleh ke arah dibalik tempat duduk ku. Yang kudapati hanyalah pasar malam yang mulai sepi. Bahkan hampir separuh wilayah pasar malam yang tadi ku lihat, kini hanya tinggal sebagian saja.

Aku sama sekali masih belum menyadari apa yang terjadi. Aku menganggap kalau sebagian orang sudah membereskan dagangannya karena sudah larut malam. Untuk menghilangkan rasa takut ku, akupun menoleh ke arah warung tempatku memesan bakso, kulihat penjual bakso itu tampak sibuk karena melayani pembeli lainnya.

Lalu aku menolehkan pandanganku ke arah samping, ternyata sudah gelap tinggal beberapa penjual saja. Kembali aku dibuat heran, waktunya begitu cepat. Seharusnya orang beres-beres makanan waktu minimal setengah jam, akan tetapi ini hanya terjadi beberapa detik saja. Lalu aku melepaskan pandanganku ke arah samping, ternyata sudah gelap tinggal beberapa penjual saja.

Kembali aku dibuat heran, waktunya begitu cepat. Seharusnya orang beres-beres makanan waktu minimal setengah jam, akan tetapi ini hanya terjadi beberapa detik saja. yang ada di depanku ternyata sudah gelap. Seketika aku terperanjat kaget, sementara sinar bulan saja yang tampak tetap terang.

“Kemana penjual-penjual tadi?” gumamku.

Dengan cahaya bulan perlahan-lahan aku memperhatikan sekeliling, aku lebih terkejut lagi ketika melihat batu nisan disekitar tempatku duduk. Dan yang lebih terperanjat lagi, ternyata tempat yang aku duduki yang sebelumnya terlihat bangku itu ternyata kijingan makam.

Akupun bergegas meninggalkan tempat ini dan langsung menyalakan mesin motor. Sebisa mungkin aku berusaha tenang mengemudikan motor menuju Kenduruan dengan dada yang terus bergemuruh.

Deg....deg....deg.... Selepas dari sana, akupun sampai dengan selamat. Meskipun disepanjang perjalanan aku diikuti perasaan takut dan keaneh-anehan yang menghantui.

--- SELESAI ---

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama